Powered By Blogger

Wednesday, 2 November 2011

Sebaik2 orang

Rasulullah saw, bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an
dan mengajarkan Al-Qur’an. "(Hr. Imam Ahmad,
Imam Bukhari dan Tirmidzi serta Ibnu Majah)
Hadits ini menunjukkan bahwa kebajikan itu benar-
benar ada pada orang yang belajar Al-Qur’an dan
mengajarkannya. Karena dalam Al-Qur’anul
‘Adzim ada hikmah-hikmah luar biasa dan rahasia
yang dalam, serta ada perilaku yang sangat luhur.
Al-Qur’anlah tali Allah yang agung, dimana orang-
orang maraih petunjukNya dan mereka yang
sampai menjadi sampai di hadapanNya.
Al-Qur’an adalah akhlaq Rasulullah saw, dan Pintu
Allah Ta’ala, Mu’jizat Abadi dan Cahaya yang tak
pernah tertirai.
Dari Al-Qur’anlah ruh kaum ‘arifin meraih rahasia
ma’rifatnya. Sedangkan ma’rifat yang tidak
bersumber padanya, hanyalah dosa dan sesat
belaka.
Siapa yang mewujudkan hakikat dengan mengenal
Al-qur’an yang agung, maka ia telah menjadi ‘arif,
dan rahasia Robaniyah, Malakutiyah dan Mulkiyah
tersingkapkan padannya.
Manakala ia mengenalNya, ia terus menerus
bangkit berjuang, ingin terus bertambah
pengetahuannya pada Allah swt, dari berbagai
segi, disiplin sebagaimana dalam Al-Qur’an yang
agung.
Orang-orang ‘Arifun adalah orang yang sangat
mendalam ilmunya, dan mereka mengatakan,
“Aku beriman kepada Allah.” Dan kepadaNyalah
akhir dari sebuah perjalanan dan hasratnya. Dari
Nyalah ia keluar, menghayati dan meraih.
Maka dikatakan bagi mereka: “Cendekianya Allah”.
Maka dengan rahasia tersebut ia langsung bisa
membedakan mana yang benar dan mana yang
batil.
Istidroj dan Cobaan Allah
Anak-anak sekalian………
Ketahuilah, sesungguhnya
Allah Ta’ala kadang-kadang menghiasi musuh-
musuhNya dengan pakaian wali-waliNya dan
pakaian para Sufi, hingga mereka terpedaya oleh
indahnya waktu dengan segala kemuliaannya. Dan
mereka merasa telah menjadi wali-waliNya.
Padahal sesungguhynya mereka telah tertimpa
Istidroj.
Kadang Allah menghiasi mereka dengan
kemuliaan, pangkat dan kepemimpinan, serta
posisi terhormat di hadapan publik, sehingga
mereka terjebak dalam pujian manusia dan mereka
menyangka bahwa mereka ini termasuk orang
yang meraih keutamaan. Inipun sesungguhnya
Istidroj dari Allah Ta’ala pada mereka.
Begitu pula mereka diriasi dengan ragam hikmah-
hikmah yang lembut, lalu mereka terjebak dengan
keindahan bahasa sastra hikmah, kemampuan
mereka memahami dan kecerdasan mereka, lalu
mereka menyangka dirinya telah melampaui
pengetahuan semua hakikat. Padahal ini hanya
Istidroj.
Bahkan kadang mereka dihiasi dengan berbagai
nikmat, dan mereka tenggelam dalam
kenikmatannya, lalu mereka terjebak pada
keindahan dan bagusnya nikmat itu, menduka
bahwa hidupnya telah bagus. Mareka menyangka
bahwa dirinya telah mendapat sesuatu dari Allah
Ta’ala. Padahal semua itu hanyalah Istidroj.
Allah swt, tidak membiarkan mereka hingga
mereka kembali pada hakikat yang diketahui. Allah
swt, berfirman : “Kami akan menimpakan istidroj
sekiranya mereka tidak mengetahuinya.”
Itulah yang bisa mengotori kehidupan para murid
di dunia, hingga dukanya lama, menguning
warnanya, remuk jiwanya, linglung akalnya,
terbanglah hatinya, dan pecahlah kepahitannya,
bahkan mereka kehilangan massa.
Maka sudah wajib bagi orang yang berakal sehat
dan berma’rifat untuk terus waspada pada
Tuhannya, sebagaimana ia mewaspadai dirinya,
seperti dalam ayat: “Dan Allah memperingatkan
pada kalian dan jiwanya…”
“Ingatlah bahwa sesungguhnya Allah mengetahui
apa yang
tersembunyi dalam dirimu, maka hati-hatilah…”
Nabi saw. Bersabda: “Orang beriman tidak akan
pernah tenang dengan cobaaan pedihnya dan tidak
pernah merasa aman dengan hati-hatinya, hingga
ia meninggalkan relung jahanam.”
Ingatlah bahwa Allah swt:
Menyebunyikan cobaanNya dibalik rasa
sayangNya,
Menyembunyikan rekadayaNya dibalik
kelembutanNya,
Menyembunyikan KeadilanNya dibalik
KemuliaanNya.
Menyembunyikan bencinya dibalik tiraiNya
yang indah,
Menyembyunyikan keterputusanNya dibalik
kemudahanNya.
Seharusnya sebagai hamba tidak berpegang dan
mengandalkan kebaikan dirinya, banyak kebajikan
yang dilakukannya. Betapa banyak:
Orang yang terhiasi sebagai sang penempuh
Jalan Menuju Allah nyatanya ia tertolak.
Orang itu tidak tahu kalau Allah swt,
menghiasnya dengan pakaian kewalian dan
kesufian, nyatanya ia musuh Allah swt. Tahu-
tahu ia telah jauh dari Allah swt.
Bahkan ada yang diberi pakaian musuhnya
Allah, namun akhirnya malah ia meraih hakikat
kemuliaanNya. Karena Dialah Yang Memulai
dan Yang Mengembalikan.
Yakni, Allah swt yang memulai dengan
menempelkan baju kewalian namun dengan sifat-
sifat musuh-musuhNya, dan merias dengan
pakaian musuhNya namun dengan sifat-sifat
kewalianNya, lalu dikembalikan pada hakikat yang
dikenal, yaitu bahwa Dialah Yang Maha
Melaksanakan KehendakNya, yang bisa
melimpahkan karuniaNya pada mereka yang
kelihatannya tertimpa KeadilanNya, dan
menimpakan KeadilanNya pada orang yang
kelihatannya meraih kemuliaan.
Ingatlah bahwa Allah swt, menghiasi Iblis dengan
hiasan perlindunganNya, padahal IlmuNya Allah
swt telah mengenalnya, bahwa Iblis adalah ahli
laknatNya. Allah menutupi apa yang menimpa Iblis
dengan kehendak yang mendahuluinya, hingga di
akhirnya semuanya jadi tampak jelas.
Begitu juga Allah swt, menghiasi Bal’am (seorang
tokoh dari bani Israel, yang mengingkari karunia
Allah swt) dengan berbagai kewalian yang
dipakaikan, namun akhirnya ia malah tergolong
menjadi orang yang tertimpa kebencianNya.
Allah menenggelamkan Qorun dalam lautan
kenikmatan, padahal menurut Allah ia tergolong
kalangan yang ditimpa kebencianNya.
Janganlah anda terjebak bersama cobaan Allah
dalam empat hal:
1. Penampakan anugerah Nya kepadamu, tanpa
anda mengetahui hakikatNya.
2. Tutupnya Allah atas amal-amal yang sudah
anda lakukan, padahal anda tidak tahu
akhirnya.
3. Allah menambahkan nikmatNya padamu,
padahal kamu belum pernah mensyukuriNya.
4. Allah memberikan banyak kepadamu, padahal
kamu tidak pernah memohonNya.
Allah berkehendak demikian kadang dalam rangka
mengingatkan anda atau malah sebagai Istidroj.
Yusuf bin al-Husain ra, mengatakan: Siapa yang
melihat ciptaan Rububiyah saat menegakkan
‘Ubudiyah, maka ia terputus dari dirinya dan
bergantung pada Tuhannya, menyerahkan
perkaranya kepadaNya, maka pada saat itulah ia
selamat dari efek Istidroj.
Ragam Istidroj
Yahya bin Mu’adz ra mengatakan: “Wahai orang
yang tertutup oleh kenikmatan dan perlindungan,
janganlah anda terjebak. Karena dibalik itu ada
dampak buruk kepedihan. Janganlah terjebak oleh
waktu-waktu yang anda penuhi ibadah, karena
dibalik itu ada bencana-bencana lembut. Dan
jangan pula terjebak oleh sucinya ‘Ubudiyah,
karena dibalik itu anda malah lalai kepada
Rububiyah.”
Masalahnya seperti apa yang dikatakan oleh beliau:
Wahai, betapa banyak orang yang teristidroj oleh
kebajikan, betapa banyak orang teristidroj pujian
padanya, betapa banyak yang tertimpa istidroj
oleh fitnah kenikmatan, betapa banyak yang
hancur oleh tirai seakan-akan elok baginya.
Karena itu siapa pun yang dalam batinnya tidak
bersiteguh dengan Allah Ta’ala, maka dzohirnya
jelas, bahwa keragu-raguannya lebih kuat daripada
yaqinnya, walaupun dzohirnya menujukkan sifat-
sifatnya orang yang yaqin. Ia kehilangan cahaya
batin karena terpesana oleh gerak-gerik dzohir. Ia
alpa dari rumitnya dampak Istidroj karena terlalu
memandang suci ubudiyahnya.
Bagi orang yang tertolong oleh Allah jangan
berpegang teguh selain Allah, dan bagi yang
terhinakan jangan putus dari harapan.
Istidrojnya aktivis dosa adalah menikmati
dosanya dan terus menerus berdosa,
disamping berpaling dari Allah Ta’ala.
Istidrojnya ilmuwan adalah upayanya mencari
derajat dan posisi di tengah massa.
Istidronya ahli Ijtihad adalah memperbanyak
dan mengagumi hasil Isjtihadnya.
Istidrojnya para murid (penempuh) adalah
terpakunya pada anugerah dan karomah serta
terpaku pada keduanya.
Istidrojnya kaum ‘arifin (ahli ma’rifat) adalah
merasa cukup dengan kema’rifatannya
bukannya kepada Allah yang dima’rifati,
hingga mereka anggap ma’rifatnya sebagai
tujuan finalnya, dan mereka merasa telah
mencapai kema’rifatan itu sendiri.
Siapa pun yang posisinya tinggi, maka
Istidrojnya lebih besar serta lebih lembut.
Betapa banyak orang yang berdzikir tetapi
sesungguhnya alpa pada Allah swt.
Betapa banyak orang yang takut
sesungguhnya ia berani kepada Allah swt.
Betapa banyak orang yang mengajak menuju
Allah, sesungguhnya ia jauh dari Allah.
Betapa banyak yang membaca Kitabullah
sesungguhnya ia terlepas dari ayat-ayat Allah
swt.
Abu Sa’id al-Kharraz ra mengatakan:
Bila aku tinggalkan dunia dan aku merasa
bangga telah mampu meninggalkannya, maka
rasa bangga itu lebih besar dosanya
ketimbang menyimpan dunia.
Bila aku bisa meninggalkan aib-aib nafsu dan
aku kagum bisa meninggalkannya, maka
kagum itu adalah aib terbesar.
Bila anda berjuang dan bergantung pada
wujud perjuanganmu, maka
ketergantunganmu itu adalah resiko besar
daripada istirahat.
Bila anda takut pada allah Ta’ala dan anda
merasa aman dengan rasa takut, maka aman
yang muncul dari rasa takut itu lebih besar
dosanya.
Memandang kedekatan kepada Allah Ta’ala
dalam aktivitas taqarrub adalah jauh yang
sebenarnya.
Memandang kemesraan dalam aktivitas
kemesraan adalah lebihbesar untuk dijauhinya.
Melihat dzikir dalam dzikir adalah kealpaan
terbesar.
Melihat ma’rifat dalam kema’rifatan adalah
kemungkaran terbesar.
Seorang ahli ma’rifat mengatakan, “Ketika aku
menyangka aku telah menemukanNya, pada saat
yang sama aku telah kehilangan Dia. Ketika aku
menyangka aku kehilangan Dia, saat itu aku
menemukanNya. Oh Tuhanku, ketika aku
meninggalkanMu Engkau mencariku. Ketika aku
mencariMu Engkau menolakku. Padahal tak ada
tempat kecuali bersamaMu, juga tak ada
kebahagiaan selain Engkau. Sungguh Engkaulah
tempat pertolongan, dan hanya menuju
kepadaMu.”
Abu Ya’qub ra mengatakan, “Yang paling bodoh
dilakukan hamba kepada Allah Ta’ala, manakala si
hamba merasa cukup dengan ma’rifatnya di dunia
ini.”
Yahya bin Mu’ad ra, mengatakan, ”Dosa yang
membuatmu sangat butuh kepadaNya itu lebih
baik dibanding taat yang membuatmu bangga atas
taatmu padaNya.”
Fudhail bin Iyadh ra, adalah tokoh yang banyak
menangis dan sering mengulang ayat ini: “Dan
tampaklah kepada mereka (berupa kebajikan) dari
Allah apa yang tidak pernah mereka lakukan
kepada Allah”.
Beliau katakan, “Mereka melakukan amaliah yang
banyak, dengan menyangka bahwa itu semua
adalah kebajikan, dan ternyata adalah keburukan,
ketika tampak dari Allah bahwa mereka belum
sama sekali berupaya berbuat baik.”
Anak-anak sekalian….
Ma’rifat itu kokoh dan tertanam. Kokoh dalam hati
para waliNya, dan tertanam di hati musuh-
musuhNya pada mulanya, kemudian dicabut di
akhirnya. Bagi orang yang mendapatkan
pertolongan, janganlah terpaku pada pertolongan
itu sendiri dan merasa aman dari cobaanNya,
begitu juga orang yang terhinakan jangan sampai
putus asa dari rahmat Tuhannya.
Kadang seseorang bermimpi indah tentang
seseorang, padahal itu adalah Istidroj dari Allah
Ta’ala. Sebagaimana lelaki dari penduduk Syam
mendatangi Al-Ala’ bin Ziyad, dan mengatakan,
“Semalam aku bermimpi tentang dirimu, seakan-
akan anda ini ahli syurga.”
Lalu al-Ala’ meninggalkan majlisnya dan menangis,
sembari berkata, “Sungguh, siapa tahu ini cobaan
dari Allah!”
Asal usul Istidroj Lupa pada Allah Ta’ala.
Dikatakan, “Sumber Istidroj adalah lupa pada Allah
Ta’ala, merasa cukup dengan selain
Allah Ta’ala, bergantung dengan selainNya dan
berpaling dariNya menuju lainNya.”
Tidak bisa disebut sebagai orang yang mendalami
hakikat ma’rifat, hanya karena ia terjebak oleh
banyaknya amal ibadah dan ilmu pengetahuan.
Sebab Iblis pun pernah jadi gurunya malaikat,
namun pada akhirnya ia memandang kehebatan
dirinya dan ibadahnya. Lalu ia meninggalkan
perintah Allah, sehingga ia termasuk kalangan yang
terlaknati, yang terlempar dari Allah selamanya.
Makanya, hati-hati, jangan terjebak oleh sikap
merasa sibuk beribadah, merasa suci jiwanya,
sebab Barshish, seorang yang kufur pada Allah
setelah beriman, dan Bal’am, keduanya adalah
paling ahli ibadah di zamannya dan paling bagus
perilakunya. Namun di akhir hayatnya malah
memandang diri sendiri dan hawa nafsunya, lalu
keduanya terhinakan di dunia dan di akhirat.
Jangan anda terperdaya hanya karena anda bergaul
dengan orang-orang saleh dan ahli zuhud, tanpa
anda sendiri mengikuti jejak mereka. Sebab
bergabung dalam keakraban, seandainya
bermanfaat, pastilah isteri Nabi Nuh meraih
manfaat, begitu juga isterinya Nabi Luth. Karena
jebakan tipudaya itu salah satu tangga dari tangga
Istidroj.
Allah swt, berfirman: “Janganlah kalian terjebak
tipudaya kehidupan dunia dan jangan terjebak
tipudaya diri kalian karena (merasa) bersama
Allah.”
“Wahai manusia apa yang memperdayaimu
sehingga kamu mendustai Tuhanmu?”
Syetan mendatangi ahli zuhud lalu mengatakan:
“Hai waliyullah, hai orang yang terbaik dari
kalangan manusia, lihatlah anugerah dan karomah
yang diberikan Tuhanmu, taqarrub dan kemesraan
dariNya!”
Tidak ragu lagi, malaikat memandang gerak-
gerikmu dan
diammu, kebaikan perilaku hatimu, dan engkau
lebih hebat dari siapa pun di eramu, manusia mana
pun tidak pernah melupakan anda.”
Nah, sampai akhirnya berbagai godaan dan
tipudaya syetan. Jika saja Allah Ta’ala melimpahkan
karunia dan rahmatNya, dan membuka matanya
atas rekayasa musuh-musuh-Nya, dan ia naik ke
derajat dengan rahasia batinnya menuju hamparan
QudratNya, maka selamatlah ia dari tangga Istidroj
yang berliku.
Ketahuilah, hati kaum pecinta senantiasa dicemasi
oleh datangnya Istidroj seperti sebuah gelombang
samudera, hingga seluruh dirinya benar-benar
bersama Allah dan hanya bagi Allah Ta’ala.
Saya pernah melihat sebuah syair dalam satu
tongkat:
Setiap dosa ada ampunan bagimu
Selain dosa berpaling dariKu.
Kukatakan:
Bila aku berpaling, aku bertobat
Aku kembali sambung seperti semula
Tak ada dosa selain aku
Memandang diri dalam cinta
Lalu aku tersiksa.
oleh :Syeikh Ahmad ar-Rifa’y

No comments:

Post a Comment