Powered By Blogger

Sunday, 30 October 2011

Sytan adalah mush yg nyata bagi kamu

60. Bukankah Aku telah memerintahkan
kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak
menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu
adalah musuh yang nyata bagi kamu”, Bukankah
Aku telah memerintahkan melalui janji di zaman
Azali dalam Perjanjian Fitrah, agar kalian tidak
menyembah Syetan, yaitu menyembah
kegelapan hijab keragaman, dan mengikuti ajakan
imajinasi.
Syetan adalah instrument Iblis, karena menurut
Syeikh Abdul Karim Al-Jiily, syetan lahir dari
perzinahan Iblis dengan hawa nafsu di pasar
duniawi, lalu lahirlah ruibuan syetan yang
menjadi alat hijab itu.
61. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Ini lah
jalan yang lurus.
Jalan yang lurus adalah Jalan Penyatuan
Musyahadah dalam kefanaan hamba menuju
Baqa’Nya. Itulah puncak maqom Tauhid.
62. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan
sebahagian besar di antaramu. Maka apakah
kamu tidak berakal sehat?
Penyesatan syetan dari satu generasi ke generasi,
adalah usahanya terus menerus agar manusia
masuk dalam hijab kegelapannya, dan jauh dari
Nur Tauhid itu sendiri, sehingga ia tidak
menyadari akan Perjanjian Fitrahnya, ketika masih
menjadi Ahsanu Taqwim, sebaik-baik makhluk.
Akal sehat adalah wujud matahati yang
memandang dengan Nur Ilahi. Bila akal sehat
berapresiasi, maka ia mampu menembus tirai-
tirai kegelapan. Sebab puncak kegelapan itulah
yang disebut dengan Jahanam.
63. lnilah Jahannam yang dahulu kamu diancam
(dengannya).
64. Masuklah ke dalamnya pada hari ini
disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.
Masuklah dengan jubah kegelapan syetanmu,
yang melemparkan dirimu jauh dari CahayaNya,
apalagi penyatuan dalam ma’rifatNya.
Disebutkan bahwa setiap orang kafir ada sumur
di neraka yang
mereka ada di dalamnya, namun ia tidak tahu dan
tidak mengerti, dan itulah gambaran penghijaban
gulita yang ada pada diri mereka.
65. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan
berkatalah kepada Kami tangan mereka dan
memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa
yang dahulu mereka usahakan.
Tangan dan kaki akan menampakkan bentuk
perilaku mereka
dengan watak dan sifatnya, sehingga tidak satu
pun yang terdustakan di sini. Sementara mulut
terkunci. Yang berbicara bukan lagi mulutnya
tetapi perilakunya, sesuai dengan watak naluri
perbuatannya.
66. Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami
hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka
berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka betapakah
mereka dapat melihat(nya).
67. Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami
rubah mereka di tempat mereka berada; maka
mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak
(pula) sanggup kembali.
Itu karena mereka tidak memandang dengan
mata hati, tetapi mata hijabnya yang justru
membutakan matahatinya. Begitu juga mereka
berposisi dengan posisi nafsunya, dengan ambisi
hijab duniawinya, hijab kesenangannya, hijab
keakuannya.
68. Dan barang siapa yang Kami panjangkan
umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada
kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak
memikirkan?
Maksudnya adalah kejadian utama di seperti di
zaman Azali dulu.
69. Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya
(Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak
baginya. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah
pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.
70. Supaya dia (Muhammad) memberi
peringatan kepada orang-orang yang hidup
(hatinya) dan supaya pastilah ketetapan (azab)
terhadap orang-orang kafir.
Karena Rasulullah saw, adalah Dzikir dan Al-
Qur’an yang nyata itu sendiri, sebagaimana
disebutkan, “Akhlaqnya adalah Al-Qur’an”.
Hidupnya hati dengan Dzikrullah, karena
Dzikrullah yang hakiki adalah hidupnya Al-Qur’an.
71. Dan apakah mereka tidak melihat bahwa
sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang
ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa
yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami
sendiri, lalu mereka menguasainya?
72. Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu
untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi
tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka
makan.
73. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-
manfaat dan minuman. Maka mengapakah
mereka tidak bersyukur?
Tetapi sebaliknya, mereka malah menjadi
layaknya binatang-binatang, yang hanya
menyembah nafsunya sendiri, egonya sendiri,
kebinatangannya sendiri, bahkan ia telah menjadi
kendaraan bagi para binatangnya sendiri. Nafsu
itu bersumber pada kebuasan dan kebinatangan
hewaniyah, yang di satu sisi bisa menumpahkan
darah, kekerasan, dan di sisi lain bisa
menghancurkan bumi dan isinya karena
hewaniyahnya yang liar dalam pemuasan.
Mereka memilki berhala-berhala hijab yang
dipatungkan dalam nafsu mereka, dan
diagungkan dalam imajinasi khayal mereka. Itulah
yang disebut ayat berikut:
74. Mereka mengambil sembahan-sembahan
selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.
75. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong
mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi
tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.
Karena berhala itu hanyalah imajiner, tuhan
khayalan, dan mimpi di atas mimpi yang
menyeret mereka dalam ambisi nafsunya,
seakan-akan dengan ego dan keakuannya mereka
bisa hebat, bisa menguasai dunia, bisa
menaklukkan makhluk. Bagaimana sesuatu yang
mustahil akan mendapatkan pertolongan dari
kemustahilannya?
76. Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan
kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa
yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka
nyatakan.
Pertolongan hanya dari Allah Ta’ala, dan makhluk
itu tak berdaya, tak memiliki kemampuan apa-
apa. Jangan sampai kegelapan makhluk
menjadikan ancaman bagi kesedihan, karena
kegelapan makhluk adalah kehinaan itu sendiri.
77. Dan apakah manusia tidak memperhatikan
bahwa Kami menciptakannya dari Setitik air
(mani), maka tiba-tiba Ia menjadi penantang yang
nyata!
Ketidaksadaran akan bahan bakunya yang hina,
justru semakin menyombongkan mereka. Dan
kesombongan adalah bentuk kontra terhadap
Penciptanya. Setiap orang yang
menyombongkan dirinya, pasti merasa lebih dari
lainnya. Dan kesombongan adalah buah dari hijab
yang pertama, karena Iblis memang terus
memproduksi keangkuhan dan kesombongan itu
sendiri.
78. Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami;
dan dia lupa kepada kejadiannya; Ia berkata:
“Siapakah yang dapat menghidupkan tulang
belulang, yang telah hancur luluh?”
Lapisan hijab akan terus menumpuk pertanyaan
sinis kepada kebenaran dan hakikatnya.
Bagaimana mereka sampai bertanya demikian?
Mereka pasti alpa bahwa sebelumnya mereka
bukan apa-apa dan tidak ada.
79. Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan
yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia
Maha Mengetahui tentang segala makhluk,
80. yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api
dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu
nyalakan (api) dari kayu itu.”
Allah swt, dengan Maha KuasaNya, tentu
berkehendak apa saja yang Dia KehendakiNya.
Manusia kafir hanya bisa mengaku-aku,
mengklaim, merasa berdaya dan kuat.
81. Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit
dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali
jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu?
Benar. Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta
lagi Maha Mengetahui.
Tidak ada yang tidak diketahui oleh Allah swt,
karena Allah swt, Maha Meliputi segalanya.
Apakah segalanya ini bisa menghijab Allah swt,
sedangkan segalanya hanyalah ciptaanNya?
82. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia
menghendaki sesuatu hanyalah berkata
kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.
KehendakNya pada sesuatu, akan terjadi tanpa
jarak rentang waktu maupun ruang.
83. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya
kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah
kamu dikembalikan.
Maha Suci Allah dari kelemahan, Maha Suci dari
serupa dengan jasad dan fisik, dimana fisik itu
berhubungan dengan ruang dan waktu, yang
justru ada di TanganNya. Segala semesta ada di
KekuasaanNya, dan hanya kepadaNya lah
segalanya berfana’ dan berakhir.
Wallahu A’lam.

No comments:

Post a Comment