Powered By Blogger

Sunday, 30 October 2011

Jalan yang lurus

Jalan Yang Lurus Itu......
"Tunjukkanlah kami kejalan yang lurus. Jalannya
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat"
Maksudnya tetapkanlah kami ke jalan hidayah,
dan tempatkanlah kami dalam istiqamah dijalan
kesatuan (wahdah).
Jalan istiqamah di dalam kesatuan (wahdah)
adalah jalan orang-orang yang dilimpahi nikmat
dan karunia Allah melalui kenikmatan tertentu
yang sangat khusus, yaitu nikmat rahimiyyah
(nikmat Allah di akhirat) atau nikmat kasih sayang,
yaitu nikmat ma'rifat dari nikmat mahabbah.
Sedangkan keteguhan hidayah itu adalah hidayah
hakiki dan bersifat substantif yang diberikan pada
para nabi dan syuhada, shiddiqin dan auliya, yaitu
mereka yang menyaksikan-Nya pada Yang Maha
Awal dari MahaAkhir, Dhahir dan Bathin, di mana
mereka telah sirna dalam penyaksiannya dengan
munculnya Wajah Yang Abadi dari segala wujud
pandang yang fana’ atau sirna.
Jalan inilah yang ditempuh para sufi. Jalan hakikat.
jalan "menyatu" dengan Allah, yang diteguhkan
oleh kenyataan dan kebenaran, bahwa yang ada
hanyalah Allah, yang abadi hanyalah Wajah Allah,
dan segala hal selain Allah adalah batil dan hancur.
Jalan menuju kepada Allah, sebagaimana
terlimpahkan kepada para nabi dan rasul, wali dan
syuhada yang senantiasa menyaksikan Allah di
mana-mana dan tidak di mana-
mana. .Penyaksian ubudiyah hamba terhadap
Rububiyahnya Allah. Respon yang interaktif dan
terus-menerus serta tidak putus dengan-Nya,
yang kelak sirna dan tenggelam dalam samudera
ma‘rifah dan mahabbah.
Mereka yang telah menyaksikan Yang Maha Awal
dan Yang Maha Akhir, Maha Dhahir dan Maha
Bathin adalah cermin dari sikap kepasrahan total
hamba-Nya. Sebagaimana dinyatakan oleh
Sulthanul Auliya Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily:
"Iman adalah engkau bersaksi bahwa keawalan
hamba bersama ke-Awalan-Nya, keakhiran
hamba bersama ke-Akhiran-Nya, kedhahiranmu
bersama ke-Dhahiran-Nya dan bathiniyahmu
bersama ke-Bathinan-Ny

No comments:

Post a Comment