Powered By Blogger

Sunday, 30 October 2011

Orang sholeh istirahat terakhir

Sosok jenazah sedang lewat bertemu Sayyidina
Ali Karromallahu Wajhah ra, lalu beliau berkata,
“Orang yang sedang istirahat, atau sedang
menjadi beban.”
“Siapa yang disebut orang yang istirahat?” beliau
ditanya seseorang.
“Orang beriman bila mati istirahat dari beban
dunia, dan kesengsaraan penghuninya, lalu ia
berjumpa dengan rahmat Allah Ta’ala. Sedangkan
orang yang menjadi beban adalah orang yang
menentang Allah Ta’ala, dan apabila ia mati, para
hamba dan negara bisa istirahat.”
Ma’mun as-Sulami ra, menegaskan, “Ketika
Abdullah bin Muqatil ra, wafat kami turut
memandikan, mengkafani, dan menguburnya.
Tiba-tiba ada suara lembut dari langit, “Segala puji
bagi Allah yang telah menyinambungkan pecinta
dengan Kekasihnya, dengan hati rela dan
mendapatkan kerelaanNya.”
Santri dari Abu Abdullah mengatakan, “Aku
bermimpi bertemu Abu Abdullah setelah
wafatnya, dimana ia sedang membakar dupa di
syurga. Lalu aku bertanya,
“Hai Abu Abdullah, bukankah ini dilarang bagi
kita?”
“Inilah perjalanan pelayan di Darussalam, di
hadapan Yang Diraja Semesta..”
Dzun Nuun Al-Mishry ra, dimimpikan setelah
beliau wafat, lalu ditanyakan padanya,”Bagaimana
kondisimu?”
“Aku mohon pada Allah empat masalah, lalu Allah
Swt memberikan dua saja, dan aku sedang
menunggu yang dua itu.”
“Apa semua itu?”
“Kukatakan: Ilahi, bila Engkau mengambil ruhku
jangan Engkau pasrahkan pada Malaikat maut.
Ilahi Engkau bertanya padaku, jangan Engkau
serahkan pada malaikat Mungkar dan Nakir. Dan
jika Engkau merendahkan aku jangan Engkau
serahkan pada Malaikat Malik. Dan bila Engkau
memuliakan aku janganlah Engkau serahkan pada
Malaikat Ridhwan.”
Dikisahkan bahwa Dawud al-‘Ujly ra, ketika mati ia
dibawa ke kuburnya. Tiba-tiba ia menyemburkan
aroma wangi. Lalu tukang kuburnya
mengambilnya sebagai minyak aroma
wewangian. Sedangkan orang-orang sangat
takjub melihatnya. Selama tujuh puluh hari, tetap
saja bau wangi. Lalu penguasa wilayah itu
berusaha mengambilnya dari orang tersebut,
tiba-tiba hilang begitu saja entah kemana
sirnanya.
Ammar bin Ibrahim ra mengatakan, “Aku
bermimpi melihat perempuan miskin setelah
kematiannya. Wanita ini sangat senang dengan
majlis dzikir, kusapa ia. “Selamat datang wahai
wanita miskin…”
“Jauh sekali wahai Ammar. Wanita miskin sudah
pergi, dan datanglah si kaya raya,” jawabnya.
“Kemarilah…” kataku.
“Apa yang kau minta pada orang yang diberi
kewenangan syurga dan segala isinya?” katanya.
“Dengan apa?” tanyaku.
“Dengan majlis-majlis dzikir.”
“Lalu apa yang dianugerahkan Allah Ta’ala pada
Ali bin Zadan?”
Ia malah tertawa, dan berujar, “Allah
memberinya pakaian yang sangat kharismatik,
dan dikatakan padanya, “Hai qori’, bacalah, dan
naiklah!”.
Ibnu Abil Hiwary ra, mengatakan, “Aku bermimpi
bertemu Al-Washily, seakan ia berdiri di angkasa,
padahal seluruh langit penuh dengan cahayanya,
lalu aku bertanya, “Apa yang diberikan Allah Ta’ala
padamu?”
“Sebaik-sebaik Tuhan adalah Tuhan kami. Dia
mengampuni kami dan memuliakan kami, dan
kami dijadikan sebagai keluargaNya.”
“Kalau begitu beri aku wasiat,” kataku.
“Hendaknya engkau tetap di majlis orang-orang
yang berdzikir, sebab mereka menurut kami
berada di derajat yang luhur.”
Saat Mu’adz ra, mendekati maut, ia pingsan, lalu
sadar, kemudian berkata, “Temukan aku dengan
orang-orang yang telah diberi nikmat Allah Ta’ala
dari kalangan Nabi, Shiddiqin dan syuhada’,…”
Lalu ia tersenyum dan berucap “Laailaaha Illalloh
Muhammadurrosulullah.Alhamdulillah.” Lalu
beliau wafat.
Ja’far adh-Dhobby ra mengatakan, “Aku
menghadiri ziarah kubur Malik bin Dinar ra, lalu
aku berkata dalam benakku, “Apa ya, yang
dianugerahkan Allah pada Malik?”
Lalu kudengar suara dari atas Malik, “Malik selamat
dari kehancuran, selamat dari buruknya
penempuhan Jalan, dan ia telah berada di rumah
kebahagiaan, bertetangga dengan Tuhan Maha
Pengampun..”
“Alhamdulillah…” kataku.
Ibnu Bikar mengisahkan, “Suatu hari aku sedang
sholat di Mashishoh (nama sebuah kota). Ketika
imam salam, seseorang tiba-tiba berdiri dan
berkata, “Wahai manusia, aku adalah seorang ahli
syurga, dan aku telah mati hari ini. Kalau ada
yang butuh, datanglah kemari..”
Ketika kami sholat ashar, orang tersebut
meninggal.
Harits bin Umar ath-Tha’i ra sedang sakit di
Arminia. Suatu hari ia menghadap kiblat dan
sholat dua rekaat, lalu ia berkata di akhir
sujudnya, “Ya Allah! Aku memohon dengan
NamaMu yang dengannya menjadi pengokoh
agama, dan dengan NamaMu yang dengannya
alam semesta mendapatkan rizki, dan dengan
namaMu Engkau hidupkan tulang-tulang yang
remuk. Bila ada kebaikan padaku di sisiMu,
segerakan matiku.”
Lalu ia terdiam, dan orang-orang menggerak-
gerakk

Ridlo allah

Pengajian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany
Tanggal 17 Ramadhan, tahun 545, H. di
Madrasahnya
Siapa yang ingin meraih ridho atas ketentuan
Allah Azza wa-Jalla hendaknya ia terus mengingat
kematian. Karena dengan mengingatnya
meringankan beban musibah dan bencana.
Dan anda jangan berhasrat pada dirimu,
hartamu, pada anakmu. Namun ucapkan,
“Tuhanku lebih tahu tentang diriku dibanding
diriku sendiri.”
Bila anda bisa melanggengkan itu, anda akan
didatangi oleh kelezatan ridho dan keselarasan
dengan kehendakNya. Maka, bencana dengan
akar dan rantingnya akan sirna, lalu datanglah
gantinya, berupa nikmat-nikmat dan kebajikan.
Sepanjang anda beserasi dengan ridho, disaat
bencana datang, justru nikmat-nikmat yang bakal
tiba dari berbagai arah dan tempat.
Namun sungguh celaka anda ini, hai orang yang
alpa pada Allah Swt. Janganlah anda sibuk
menjauhiNya dan mencari selain Dia. Sudah
berapa lama anda memburu keleluasaan rejeki,
tetapi malah menjadi bencana bagimu,
sedangkan anda tidak tahu kebaikan itu ada
dimana.
Mulailah anda diam dan berselaraslah denganNya,
carilah ridhoNya atas tindakan-tindakanNya dan
bersyukur dalam berbagai situasi. Karena
berlimpahnya rejeki malah menjadi bencana
manakala tidak disertai syukur. Begitu juga
sempitnya rejeki menjadi bencana manakala tidak
disertai sabar. Syukur menambah nikmat
padamu dan mendekatkanmu kepada Allah Azza
wa-Jalla. Sementara sabar meneguhkan langkah-
langkah hatimu, menolongmu, menguatkanmu,
menguntungkan dirimu. Akibat sabar adalah
terpujinya seseorang di dunia dan akhirat. Karena
kontra kepada Allah Azza wa-Jalla berarti
menzalimi hati dan wajah.
Wahai orang bodoh, gantilah kesibukanmu yang
terus menentang Tuhanmu dengan kesibukan
memohon kepadaNya Azza wa-Jalla, teruslah
demikian sampai hilang bencana dan cobaan,
serta api cobaan sirna.
Anda wahai orang yang mengaku berserasi
dengan kehendak Allah Azza wa-Jalla, yang
mengaku melihat khazanah perbendaharaan
rahmatNya dan cintaNya memohonlah kepada
Allah Azza wa-Jalla manakala anda ada di
JalanNya, sebelum sampai di hadapanNya.
Bila anda bingung, katakan, “Wahai Dzat yang
memberi petunjuk bagi orang-orang bingung,
tunjukkanlah padaku.”
Bila anda lemah dan kehilangan kesabaran,
ucapkanlah : “Wahai Tuhanku, tolonglah aku, dan
sabarkanlah diriku, bukakanlah jalan keluar
bagiku.”
Namun bila anda telah sampai (wushul) dan
hatimu sudah masuk di hadapanNya serta dekat
padaNya, maka tidak ada lagi permohonan yang
harus diutarakan, melainkan diam dan
menyaksikanNya. Anda menjadi tamuNya, dan
tamu yang baik tidak menginginkan apa-apa,
justru harus berbudi adab yang bagus. Tidak
makan kecuali yang disuguhkan, mengambil apa
yang diberi. Kecuali jika ditanyakan, “Anda ingin
sesuatu?”. Ia pun berkeinginan itu, sebagai bentuk
pelaksanaan perintah, bukan karena pilihannya
sendiri.
Meminta itu, berarti jauh dariNya. Sedangkan
diam, berarti dekat denganNya.
Orang-orang arif senantiasa tidak mengenal
kecuali Al-Haq Azza wa-Jalla. Semua bentuk
ketergantungan putus dan semua sebab akibat
sirna dari hatinya. Bahkan seandainya tidak ada
makanan dan minuman berhari-hari dan
berbulan-bulan ia tidak peduli dan tidak berubah.
Karena Allah azza wa-Jalla memberikan makanan
kepada mereka, konsumsi yang sesuai dengan
kehendakNya.
Siapa yang mengaku mencintai Allah Azza wa-
Jalla, tetapi masih mencari selain Dia, berarti ia
dusta dalam mencintaiNya. Namun jika ia
dicintaiNya, ia telah wushul menjadi tamuNya,
dan begitu dekat denganNya, lalu dikatakan
padanya, “Carilah,…”, dan anda memang
menginkannya, maka ucapkanlah, “Terserah apa
yang Engkau Kehendaki, karena KehendakMu itu
bebas…”.
Sang pecinta senantiasa tergenggam, dan yang
dicintai senantiasa menghamparkan keleluasaan.
Bagi pecinta segalanya terlarang, bagi yang dicinta
meraih segalanya. Sepanjang hamba menjadi
pecinta ia senantiasa bimbang, tercabik-cabik, dan
penuh upaya sepanjang waktu. Bila ia telah
kembali kepadaNya, ia menjadi tercinta.
Segalanya jadi terbalik pada haknya. Datanglah
kemudahan-kemudahan, kesejahteraan, tenang,
rizki melimpah dan makhluk lain patuh padanya.
Semua itu berkah kesabaran dan keteguhan pada
situasi mencintaiNya. Kedekatan hamba hanya
bagi Allah Azza wa-Jalla, sedangkan cintanya Allah
azza wa-Jalla pada hambaNya, bukan seperti
cintanya makhluk pada sesamanya. Karena
Tuhan kita Azza wa-Jalla:
“Tidak satu pun yang menyamaiNya, dan Dia
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-
Syuura : 11)
Jadikan padanan itu hanya pada sesama manusia.
Maka carilah pemahaman dariNya, carilah
kebaikan qalbu dariNya. Karena Dia senantiasa
memberikan keluasan kebajikan qalbu pada yang
dikehendakiNya, Dialah yang memperbanyak rizki
qalbu pada yang dikehendakiNya.
Salah satu dari kaum Sufi hatinya begitu luas
melampaui langit dan bumi, sehingga hatinya
seperti Tongkat Musa as. Tongkat Nabi Musa as,
pada awalnya adalah hikmah, kemudian menjadi
qudroh (memiliki kemampuan). Tongkat itu
digunakan membawa bekalnya manakala ia tidak
mampu membawanya. Tongkat itu bisa jadi
kendaraan yang dinaiki, manakala ia tidak mampu
berjalan. Tongkat itu bisa menolak bahaya,
sedangkan ia sedang duduk dan tidur. Bahkan
bisa berbuahkan buah-buahan dari berbagai jenis
buah dan menjadi payung ketika ia duduk. Allah
menampakkan kekuasanNya dalam tongkat itu,
lalu Nabi Musa merasa bahagia dengan
KekuasaanNya melalui perantara tongkat itu.
Katika Allah Azza wa-Jalla menjadikan dirinya
sebagai Nabi, dan memberikan ke-taqarrub-an,
mengajaknya bicara dan memberikan tugas
padanya, Allah berfirman pada Nabi Musa as. :
“Apa yang ada di tangan kananmu wahai Musa?”
Maka Musa menjawab, “Inilah tongkatku, aku
gunakan pegangan (bertelekan) padanya, dan aku
gunakan menggembala kambingku, dan bagiku
ada kegunaan lain padanya.” (Thaha 18)
Kemudian Allah Azza wa-Jalla berfirman,
“Lemparkanlah tongkatmu…” Tiba-tiba menjadi
ular besar, dan Musa lari dari ular itu. Maka Allah
Azza wa-Jalla berfirman:
“Ambillah ia, dan jangan takut. Kami akan
mengembalikannya (jadi tongkat lagi)”. (Thaha 21)
Tujuan utama dari itu adalah menampakkan
Kekuasaan Allah Swt, sehingga imperium Fir’aun
terasa hina, sekaligus menegaskan perang
melawan Fir’aun dan pasukannya, dan
keluarbiasaan itu sebagai piranti untuk memerangi
mereka dan menampakkan hal yang luar biasa. Di
awalnya memang menimpulkan rasa sesak di
hati dan dada, kemudian Allah melapangkannya,
dan memberikan hukum, kenabian dan
pengetahuan kepada Musa as.
Hai bodoh, ini pun KekuasaanNya, namun tetap
dilalaikan dan diingkari. Karena itu jangan anda
melupakan Dzat yang tak pernah lupa padamu,
jangan anda alpa pada Yang tidak pernah
melupakanmu. Ingatlah pada mati, karena
malaikat maut yang siap mencabut nyawa
mereka. Karena itu kemudaanmu, hartamu dan
semua yang engkau miliki tidak akan pernah
memperdayaimu, karena tidak lama lagi akan
diambil semua darimu. Sementara anda hanya
mengenang keteledoranmu dan sia-siamu di hari-
hari ini, penuh dengan tindak kebatilan. Anda
menyesal, dan tak ada penyesalan kemudian.
Tidak lama lagi anda mati, dan anda baru ingat
kata-kataku, nasehatku padamu dan anda sangat
berharap agar aku ada disampingmu ketika
engkau dalam kuburmu, mendengarkan saran
nasehatku.
Karena itu berusahalah dengan serius untuk
menerima kata-kataku dan mengamalkannya,
hingga engkau bersamaku di dunia dan akhirat.
Berbaiksangkalah padaku sampai anda
mengambil manfaat ucapanku, lalu
berbaiksangkalah pada selainmu, namun
berburuk sangkalah pada nafsumu. Bila anda
melakukan tindakan ini, anda bisa meraih manfaat
dan yang lain mendapatkan manfaat darimu.
Sepanjang anda dengan selain Allah azza wa-Jalla,
maka anda terus susah dan gelisah, syirik dan
berat.
Keluarkanlah makhluk dari hatimu dan
bersambunglah dengan Allah azza wa-Jalla, maka
anda akan melihat sesuatu yang tak terbayang
mata, dan tak pernah terbesit di telinga, tidak pula
terlintas di hati manusia. Inilah yang anda ada di
dalamnya, dalam kondisi anda tidak benar dan
tidak sempurna. Karena prinsip dasarnya masih
ada yang lain, bukan Dia sebagai penentu. Dia
terbuang, dan anda telah membangun
keruntuhan.
Bertaubatlah kepada Allah azza wa-Jalla dan
mohonlah perubahan posisi anda kepadaNya.,
yang berupa ambisi duniawimu dan kontra
akhirat itu. (bersambung).

Sytan adalah mush yg nyata bagi kamu

60. Bukankah Aku telah memerintahkan
kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak
menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu
adalah musuh yang nyata bagi kamu”, Bukankah
Aku telah memerintahkan melalui janji di zaman
Azali dalam Perjanjian Fitrah, agar kalian tidak
menyembah Syetan, yaitu menyembah
kegelapan hijab keragaman, dan mengikuti ajakan
imajinasi.
Syetan adalah instrument Iblis, karena menurut
Syeikh Abdul Karim Al-Jiily, syetan lahir dari
perzinahan Iblis dengan hawa nafsu di pasar
duniawi, lalu lahirlah ruibuan syetan yang
menjadi alat hijab itu.
61. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Ini lah
jalan yang lurus.
Jalan yang lurus adalah Jalan Penyatuan
Musyahadah dalam kefanaan hamba menuju
Baqa’Nya. Itulah puncak maqom Tauhid.
62. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan
sebahagian besar di antaramu. Maka apakah
kamu tidak berakal sehat?
Penyesatan syetan dari satu generasi ke generasi,
adalah usahanya terus menerus agar manusia
masuk dalam hijab kegelapannya, dan jauh dari
Nur Tauhid itu sendiri, sehingga ia tidak
menyadari akan Perjanjian Fitrahnya, ketika masih
menjadi Ahsanu Taqwim, sebaik-baik makhluk.
Akal sehat adalah wujud matahati yang
memandang dengan Nur Ilahi. Bila akal sehat
berapresiasi, maka ia mampu menembus tirai-
tirai kegelapan. Sebab puncak kegelapan itulah
yang disebut dengan Jahanam.
63. lnilah Jahannam yang dahulu kamu diancam
(dengannya).
64. Masuklah ke dalamnya pada hari ini
disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.
Masuklah dengan jubah kegelapan syetanmu,
yang melemparkan dirimu jauh dari CahayaNya,
apalagi penyatuan dalam ma’rifatNya.
Disebutkan bahwa setiap orang kafir ada sumur
di neraka yang
mereka ada di dalamnya, namun ia tidak tahu dan
tidak mengerti, dan itulah gambaran penghijaban
gulita yang ada pada diri mereka.
65. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan
berkatalah kepada Kami tangan mereka dan
memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa
yang dahulu mereka usahakan.
Tangan dan kaki akan menampakkan bentuk
perilaku mereka
dengan watak dan sifatnya, sehingga tidak satu
pun yang terdustakan di sini. Sementara mulut
terkunci. Yang berbicara bukan lagi mulutnya
tetapi perilakunya, sesuai dengan watak naluri
perbuatannya.
66. Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami
hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka
berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka betapakah
mereka dapat melihat(nya).
67. Dan jikalau Kami menghendaki pastilah Kami
rubah mereka di tempat mereka berada; maka
mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak
(pula) sanggup kembali.
Itu karena mereka tidak memandang dengan
mata hati, tetapi mata hijabnya yang justru
membutakan matahatinya. Begitu juga mereka
berposisi dengan posisi nafsunya, dengan ambisi
hijab duniawinya, hijab kesenangannya, hijab
keakuannya.
68. Dan barang siapa yang Kami panjangkan
umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada
kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak
memikirkan?
Maksudnya adalah kejadian utama di seperti di
zaman Azali dulu.
69. Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya
(Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak
baginya. Al Qur’an itu tidak lain hanyalah
pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.
70. Supaya dia (Muhammad) memberi
peringatan kepada orang-orang yang hidup
(hatinya) dan supaya pastilah ketetapan (azab)
terhadap orang-orang kafir.
Karena Rasulullah saw, adalah Dzikir dan Al-
Qur’an yang nyata itu sendiri, sebagaimana
disebutkan, “Akhlaqnya adalah Al-Qur’an”.
Hidupnya hati dengan Dzikrullah, karena
Dzikrullah yang hakiki adalah hidupnya Al-Qur’an.
71. Dan apakah mereka tidak melihat bahwa
sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang
ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa
yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami
sendiri, lalu mereka menguasainya?
72. Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu
untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi
tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka
makan.
73. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-
manfaat dan minuman. Maka mengapakah
mereka tidak bersyukur?
Tetapi sebaliknya, mereka malah menjadi
layaknya binatang-binatang, yang hanya
menyembah nafsunya sendiri, egonya sendiri,
kebinatangannya sendiri, bahkan ia telah menjadi
kendaraan bagi para binatangnya sendiri. Nafsu
itu bersumber pada kebuasan dan kebinatangan
hewaniyah, yang di satu sisi bisa menumpahkan
darah, kekerasan, dan di sisi lain bisa
menghancurkan bumi dan isinya karena
hewaniyahnya yang liar dalam pemuasan.
Mereka memilki berhala-berhala hijab yang
dipatungkan dalam nafsu mereka, dan
diagungkan dalam imajinasi khayal mereka. Itulah
yang disebut ayat berikut:
74. Mereka mengambil sembahan-sembahan
selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.
75. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong
mereka; padahal berhala-berhala itu menjadi
tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.
Karena berhala itu hanyalah imajiner, tuhan
khayalan, dan mimpi di atas mimpi yang
menyeret mereka dalam ambisi nafsunya,
seakan-akan dengan ego dan keakuannya mereka
bisa hebat, bisa menguasai dunia, bisa
menaklukkan makhluk. Bagaimana sesuatu yang
mustahil akan mendapatkan pertolongan dari
kemustahilannya?
76. Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan
kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa
yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka
nyatakan.
Pertolongan hanya dari Allah Ta’ala, dan makhluk
itu tak berdaya, tak memiliki kemampuan apa-
apa. Jangan sampai kegelapan makhluk
menjadikan ancaman bagi kesedihan, karena
kegelapan makhluk adalah kehinaan itu sendiri.
77. Dan apakah manusia tidak memperhatikan
bahwa Kami menciptakannya dari Setitik air
(mani), maka tiba-tiba Ia menjadi penantang yang
nyata!
Ketidaksadaran akan bahan bakunya yang hina,
justru semakin menyombongkan mereka. Dan
kesombongan adalah bentuk kontra terhadap
Penciptanya. Setiap orang yang
menyombongkan dirinya, pasti merasa lebih dari
lainnya. Dan kesombongan adalah buah dari hijab
yang pertama, karena Iblis memang terus
memproduksi keangkuhan dan kesombongan itu
sendiri.
78. Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami;
dan dia lupa kepada kejadiannya; Ia berkata:
“Siapakah yang dapat menghidupkan tulang
belulang, yang telah hancur luluh?”
Lapisan hijab akan terus menumpuk pertanyaan
sinis kepada kebenaran dan hakikatnya.
Bagaimana mereka sampai bertanya demikian?
Mereka pasti alpa bahwa sebelumnya mereka
bukan apa-apa dan tidak ada.
79. Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan
yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia
Maha Mengetahui tentang segala makhluk,
80. yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api
dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu
nyalakan (api) dari kayu itu.”
Allah swt, dengan Maha KuasaNya, tentu
berkehendak apa saja yang Dia KehendakiNya.
Manusia kafir hanya bisa mengaku-aku,
mengklaim, merasa berdaya dan kuat.
81. Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit
dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali
jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu?
Benar. Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta
lagi Maha Mengetahui.
Tidak ada yang tidak diketahui oleh Allah swt,
karena Allah swt, Maha Meliputi segalanya.
Apakah segalanya ini bisa menghijab Allah swt,
sedangkan segalanya hanyalah ciptaanNya?
82. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia
menghendaki sesuatu hanyalah berkata
kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.
KehendakNya pada sesuatu, akan terjadi tanpa
jarak rentang waktu maupun ruang.
83. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya
kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah
kamu dikembalikan.
Maha Suci Allah dari kelemahan, Maha Suci dari
serupa dengan jasad dan fisik, dimana fisik itu
berhubungan dengan ruang dan waktu, yang
justru ada di TanganNya. Segala semesta ada di
KekuasaanNya, dan hanya kepadaNya lah
segalanya berfana’ dan berakhir.
Wallahu A’lam.

Pelajaran spiritual dari bani isra,il

Pelajaran Degradasi Spiritual dari Bani Israil
Dimaksud perjanjian adalah janji yang lalu
maupun yang akan datang, yang ada dalam
Taurat, atau yang dialamnya ada bukti-bukti
rasional melaui pentauhidan Tindakan Ilahi dan
Sifat-sifat Ilahi, lalu disanalah
diangkat ke dalam kesan otak dari pemahaman
hakikat makna-maknanya.
"Ketika Kami mengambil perjanjianmu dan
meninggikan di atasmu bukit, "Ambillah apa yang
Kami datangkan kepadamu dengan kegigihan,
dan perhatikanlah apa yang di dalamnya agar
kamu menjadi orang yang bertaqwa." (Q.S. Al-
Baqarah : 63)
"Kemudian setelah itu kamu belokkan. Kalau
bukan karena anugerah Allah kepadamu dan
rahmatNya, niscaya kamu tergolong orang-orang
yang merugi.” (Q.S. Al-Baqarah : 64)
Maka terimalah apa yang Kami sampaikan di
dalam Taurat yang merupakan (Al-Kitabul 'Aqly
al-Furqany) dengan sikap yang serius dan gigih.
Maka jagalah aturan hukum, pengetahuan,
hakikat, dan syariatnya, agar kalian bisa menjaga
diri dari kemusyrikan, kebodohan dan kefasikan.
Tetapi setelah itu, kamu lebih mengarah kepada
orientasi kerendahan. Kalau bukan Fadhal dan
Rahmat Allah melalui hidayah terhadap arah
akalmu, dan RahmatNya melalui Cahaya hati dan
syariatmu, pasti kalian tergolong orang yang rugi.
Ulasan
Inilah peringatan Allah kepada Bani Israil ketika
kaum Nabi Musa ini mulai menyimpang dari Arah
Tauhid yang hakiki, menuju arah kerendahdinaan
kebodohan. Sebuah pelajaran bagi kita, agar kita
tetap berpegang pada Hidayah dan Cahaya Allah
yang membimbing akal dan hati kita, jangan
sampai kita dibimbing oleh nafsu dan ego kita
yang rendah. Karena nafsu dan ego ini
merupakan hijab yang menutupi hidayah dan
cahayaNya.
Hakikat makna-makna yang tercetak dibalik ayat-
ayat Ilahi adalah pengetahuan dan kema'rifatan
atas Tauhidnya. Tetapi eksploitasi keakuan dan
nafsu telah menyeret seseorang kepada
pengabaian, penolakan terhadap anugerah dan
Cahaya Allah, Fadhal dan RahmatNya.
Add a smiley
B

Jalan yang lurus

Jalan Yang Lurus Itu......
"Tunjukkanlah kami kejalan yang lurus. Jalannya
orang-orang yang telah Engkau beri nikmat"
Maksudnya tetapkanlah kami ke jalan hidayah,
dan tempatkanlah kami dalam istiqamah dijalan
kesatuan (wahdah).
Jalan istiqamah di dalam kesatuan (wahdah)
adalah jalan orang-orang yang dilimpahi nikmat
dan karunia Allah melalui kenikmatan tertentu
yang sangat khusus, yaitu nikmat rahimiyyah
(nikmat Allah di akhirat) atau nikmat kasih sayang,
yaitu nikmat ma'rifat dari nikmat mahabbah.
Sedangkan keteguhan hidayah itu adalah hidayah
hakiki dan bersifat substantif yang diberikan pada
para nabi dan syuhada, shiddiqin dan auliya, yaitu
mereka yang menyaksikan-Nya pada Yang Maha
Awal dari MahaAkhir, Dhahir dan Bathin, di mana
mereka telah sirna dalam penyaksiannya dengan
munculnya Wajah Yang Abadi dari segala wujud
pandang yang fana’ atau sirna.
Jalan inilah yang ditempuh para sufi. Jalan hakikat.
jalan "menyatu" dengan Allah, yang diteguhkan
oleh kenyataan dan kebenaran, bahwa yang ada
hanyalah Allah, yang abadi hanyalah Wajah Allah,
dan segala hal selain Allah adalah batil dan hancur.
Jalan menuju kepada Allah, sebagaimana
terlimpahkan kepada para nabi dan rasul, wali dan
syuhada yang senantiasa menyaksikan Allah di
mana-mana dan tidak di mana-
mana. .Penyaksian ubudiyah hamba terhadap
Rububiyahnya Allah. Respon yang interaktif dan
terus-menerus serta tidak putus dengan-Nya,
yang kelak sirna dan tenggelam dalam samudera
ma‘rifah dan mahabbah.
Mereka yang telah menyaksikan Yang Maha Awal
dan Yang Maha Akhir, Maha Dhahir dan Maha
Bathin adalah cermin dari sikap kepasrahan total
hamba-Nya. Sebagaimana dinyatakan oleh
Sulthanul Auliya Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily:
"Iman adalah engkau bersaksi bahwa keawalan
hamba bersama ke-Awalan-Nya, keakhiran
hamba bersama ke-Akhiran-Nya, kedhahiranmu
bersama ke-Dhahiran-Nya dan bathiniyahmu
bersama ke-Bathinan-Ny

Saturday, 29 October 2011

Bondo pltu jepara

Asal hutan blantara,skrg jd himbaoan antar penjlajah manca negara dunia, yg skrg ini tak kalah sama gemerlip ibu kota batavia
sampai skrg ini msih butuh brapa unit lagi, pdhal skrg ini sudah 2 yg aktf, tp mengapa jg para cendikiawan2 masih saja membutuhkn beberapa unit lagi yg lebih menciptakan kecanggihan2 electronika, tp anehnya yg jd ptanyaan,
"mngapa para cendikiawan itu memilih d swatu tempat, yaitu di kota ukir jepara jawa tengah"

Lawas lumber wod procesing llwp

Pabrik malaysia yg di huni Pekerja dari indonesia/tki.
Brada di lokasi serawak jalan merapok kampung lawas.
Perkrja kbnyakan dari daerah jepara demak dan pati jawa tengah dan dari daerah laen.dan ada 3 cucu dari sunan kudus dari desa jelak kesambi mejobo kudus jawa tengah.

Gaji,ya di pabrik ini adalah rm12/stara dngn 30ribu rupiah sehari.
Sangat2 minim cuman bisa buat kentut doang trus abis.